Senin, 03 November 2008 00:00   
Pelantikan Para Pejabat Eselon I, Jakarta, 3 November 2008
SAMBUTAN MENTERI LUAR NEGERI RI
PADA PELANTIKAN PARA PEJABAT ESELON I
DEPARTEMEN LUAR NEGERI
Jakarta, 3 November 2008
Saudara Wakil Menteri Luar Negeri,
Saudara Sekretaris Jenderal,
Para Pejabat Eselon I dan II di lingkungan Departemen Luar Negeri, termasuk para Pejabat yang akan dilantik dan diambil sumpahnya pagi ini,
Hadirin sekalian yang berbahagia,
Assalammu’alaikum Warrahmatulahi Wabarakatuh,
Selamat pagi dan salam bahagia bagi kita semua, 

Puji dan syukur sepatutnya kita panjatkan kehadirat Allah SWT, Tuhan yang Maha Kuasa dan sumber segala kekuasaan, karena pagi ini kita dapat melakukan pelantikan dan pengambilan sumpah para Pejabat eselon I. Dengan disaksikan oleh kita semua, saya  melantik dan mengambil sumpah:

1. Saudara Duta Besar Hamzah Thayeb, MA, sebagai Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika; 
2. Jauhari Oratmangun, MA, sebagai Direktur Jenderal Kerja Sama ASEAN; serta
3. Saudara Arif Havas Oegroseno, SH, L.LM sebagai Direktur Jenderal Hukum dan Perjanjian Internasional.
Disamping itu, pada hari ini juga saya melantik dan mengambil sumpah:
1. Saudara……..sebagai Direktur…..;
2. Saudara……..sebagai Direktur…..;
3. Saudara……..sebagai Direktur……;
4. Saudara……..sebagai Direktur……; serta
5. Saudara……..sebagai Direktur…...;

Lebih dari sekadar acara seremonial, pelantikan dan pengambilan sumpah pejabat sesungguhnya merupakan sebuah peneguhan akan komitmen. Dalam hal ini, saya menyebutnya sebagai komitmen untuk melaksanakan tugas dan amanah yang dipercayakan dengan penuh tanggung jawab, integritas, dan secara profesional. Hal ini didorong bukan saja oleh upaya reformasi internal atau  benah diri yang saat ini tengah gencar kita lakukan, tetapi juga oleh besarnya harapan dan tuntutan publik akan aparat pemerintahan yang profesional, akuntabel, bersih dan berwibawa.

Harapan, tantangan, dan kepercayaan yang diletakkan pada pundak kita semua menuntut kita untuk mampu menjawabnya melalui hasil karya nyata. Karena itulah, saya sungguh memandang penting acara ini, karena disinilah awal pelaksanaan tugas dan tanggung jawab saudara dalam kedudukan masing-masing.

Hadirin yang berbahagia,

Pada hari Jum’at, 31 Oktober 2008 lalu, saya menghadiri acara penyerahan penghargaan Citra  Pelayanan Prima 2008. Alhamdulillah, Kedutaan Besar Republik Indonesia di Singapura dan Kuala Lumpur berhasil meraih Piala Citra Pelayanan Prima tahun 2008 dengan meraih predikat nilai terbaik.  Selain itu, penghargaan juga diberikan kepada Direktorat Perlindungan Warga Negara Indonesia dan Badan Hukum Indonesia, sebagai Unit Pelayanan Publik yang meraih predikat nilai baik.

Disamping penghargaan-penghargaan tadi, dua dari sepuluh  orang yang memperoleh penghargaan sebagai inovator kebijakan pelayanan atau inovator operasional juga berasal dari lingkungan Departemen Luar Negeri. Mereka adalah Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RI untuk Singapura, (Saudara Duta Besar Wardhana) dan Wakil Duta Besar RI untuk Malaysia, (Saudara Tatang Razak).

Penghargaan yang kita terima merupakan pendorong sekaligus bukti dan pengakuan bahwa upaya kita untuk meningkatkan kualitas pelayanan warga telah berada pada jalur yang tepat. Selama ini tidak jemu-jemunya saya terus  menyerukan agar unit-unit kerja di lingkungan dalam dan luar negeri untuk melakukan dan memberikan pelayanan yang berkualitas, yakni pelayanan yang cepat, mudah, murah dan ramah.

Upaya untuk memberikan pelayanan berkualitas tersebut hanya mungkin dilakukan jika dipenuhi dua hal.
Pertama, jika kita memiliki budaya kerja dengan dilandasi oleh semangat kepedulian dan keberpihakan. Kita peduli pada warga yang mendapatkan kesulitan dan membutuhkan bantuan. Kita tidak memiliki pilihan lain terkecuali berpihak. Kita berpihak dalam membantu mereka. Kepedulian dan keberpihakan dalam melindungi warga kita merupakan amanat konstitusional seperti termaktub dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negeri RI tahun 1945: “…melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia…”

Dalam pengertian itu, kita membangun dan memperkuat rasa empati kita dengan cara menempatkan diri kita pada posisi mereka yang kita layani. Kita mengerti kesulitan yang mereka hadapi, dan kita memahami kebutuhan mereka akan perlindungan dari aparat Pemerintah.

Kedua, jika kita semua konsisten dalam menerapkan tertib administrasi dan keuangan. Dengan tertib administrasi dan keuangan maka pengenaan bea-bea atas pelayanan kepada warga wajib untuk senantiasa sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. Karena itulah, maka tidak ada pungutan liar yang dibebankan kepada warga kita yang memerlukan pelayanan. Adanya pungutan liar-pungutan liar dan ilegal inilah yang menjadikan sebuah pelayanan menjadi mahal.

Karena itu, integritas para Diplomat Indonesia, sebagai bagian dari aparatur negara dan abdi masyarakat, juga dapat diukur salah satunya melalui kriteria-kriteria, ukuran serta parameter tersebut dalam melaksanakan tugasnya: kepedulian dan keberpihakan, serta tertib administrasi dan keuangan. 

Hadirin yang berbahagia,

Menengok 7 tahun ke belakang, saya kira kita sudah banyak berubah, dan kita berubah secara  positif ke arah yang lebih baik. Dalam rangkaian Rapat Kerja dengan mitra kita di Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, misalnya, berulang kali kerap dilontarkan pengakuan bahwa Perwakilan-Perwakilan Indonesia di luar negeri telah jauh lebih responsif terhadap kebutuhan warga serta memberikan kualitas perlindungan dan pelayanan yang jauh lebih meningkat. Perwakilan-Perwakilan RI tersebut kini tidak lagi dipandang sebagai menara gading. Kini kita sudah lebih menjadi bagian dari dinamika riil di masyarakat, dan kita menjadi bagian dari masyarakat itu sendiri.

Kini, jika kita menengok kembali ke belakang, tepatnya sejak benah diri kita lakukan pada tahun 2001, maka kita memahami bahwa benah diri merupakan sebuah proses untuk membuat diri kita menjadi lebih baik dari sebelumnya, termasuk guna memenuhi tuntutan akuntabilitas kita kepada masyarakat seperti yang telah saya singgung di awal sambutan ini.

Dan terkait hal itu, sesungguhnya benah diri bukanlah proses yang mudah, karena pada hakikatnya manusia sendiri juga sulit untuk berubah. Jangankan untuk melakukan perubahan yang akan menyangkut aspek kerugiannya, bahkan mereka yang tidak dirugikan oleh proses perubahan ini juga akan mempertanyakan kenapa kita mesti berubah. 

Sungguh merupakan sebuah tantangan yang besar bagi kita untuk dapat secara konsisten dan efektif mendorong proses perubahan ke arah yang lebih baik tadi. Dan berbagai keraguan, pertanyaan, skeptisme dan bahkan penolakan terhadap perubahan dan proses benah diri yang kita lakukan seyogyanya tidak mengendurkan semangat, kegigihan dan optimisme kita dalam melakukan proses benah diri. 

Seperti telah berulangkali saya tegaskan, proses benah diri bukanlah upaya korektif semata, namun didalamnya terkandung pula elemen adaptasi. Mencermati perkembangan saat ini, serta guna mengantisipasi berbagai perkembangan dan dinamika, baik di dalam dan di luar negeri, maka benah diri sebagai upaya adaptasi merupakan sebuah langkah strategis yang sedang dibangun oleh Departemen Luar Negeri.

Langkah dan upaya strategis ini perlu dipahami dan diterapkan di berbagai lini dan tingkatan. Dan hal ini saya tegaskan kembali pada acara pelantikan dan pengambilan sumpah jajaran pimpinan yang baru di lingkungan Departemen Luar Negeri. Di pundak Saudara sekalianlah terletak kepercayaan, kewajiban dan tanggung jawab untuk memastikan bahwa proses benah diri ini berjalan sesuai dengan arah dan dinamika yang benar dan efektif.

Karena itu pula, maka tidaklah bosan kiranya saya untuk terus mengingatkan betapa berat dan mulianya tanggung jawab dan tugas yang dipercayakan kepada kita semua, baik itu unsur pimpinan, pelaksana dan pendukung.  Kepercayaan yang besar itu bukan saja wajib kita pertanggungjawabkan kepada pimpinan nasional dan seluruh rakyat Indonesia, tapi juga kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa dan sumber dari segala kekuasaan.

Ke depan, pelaksanaan tugas dan tanggung jawab ini semakin tidak ringan. Namun saya minta agar Saudara sekalian tetap menjaga optimisme, semangat pengabdian dan kejuangan yang tinggi, serta profesionalisme dan kekompakan dalam memenuhi tugas dan kewajiban tersebut. Saya kira, tanpa optimisme, semangat pengabdian dan kejuangan serta profesionalisme dan kekompakan dalam melaksanakan tugas, maka perjuangan kita untuk memastikan tercapainya tujuan dan kepentingan nasional akan semakin sulit.

Hadirin yang berbahagia,

Tantangan kita ke depan akan semakin sulit dan kompleks. Kini kita dihadapkan pada krisis keuangan global, yang dampaknya masih akan terus kita rasakan di masa mendatang, baik di level domestik, regional, maupun internasional global. Mencuatnya krisis ini mendorong para pemimpin dunia untuk meninjau kembali berbagai kebijakan ekonomi dan keuangan yang selama ini diterapkan, termasuk didalamnya upaya mempererat kerjasama internasional. Hal inilah yang akan dibahas pada Pertemuan Tingkat Tinggi di Washington D,C. minggu depan yang juga akan dihadiri oleh Presiden Republik Indonesia. 

Krisis global yang sangat multidimensional, meliputi keuangan, pangan, lingkungan serta energi, saat ini menuntut kita untuk lebih jeli dan cermat dalam merumuskan serta mengimplementasikan kebijakan kita, termasuk kebijakan dan politik luar negeri.

Inilah hal utama yang hendak saya tekankan kepada para pejabat baru, khususnya di Direktorat Jenderal Asia Pasifik dan Afrika; Direktorat Jenderal Kerja Sama ASEAN serta Direktorat Jenderal Hukum dan Perjanjian Internasional.

Bukanlah sebuah kebetulan jika saat ini membangun dan memperkokoh berbagai bangunan kemitraan strategis dan kerjasama dengan negara-negara kunci di Asia Pasifik, serta Afrika, terutama dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas kerjasama ekonomi. Upaya ini hendaknya dimaknai sebagai upaya untuk menerjemahkan kedekatan politik yang telah berhasil kita bangun selama ini menjadi kedekatan ekonomi yang membawa manfaat nyata bagi masyarakat luas di Indonesia. Saya kira, inilah esensi dari tugas kita ke depan.

Di lingkungan terdekat kita, ASEAN, ke-sepuluh negara anggota ASEAN telah resmi meratifikasi Piagam ASEAN. Melalui ratifikasi ini, maka kini ASEAN memasuki era baru, dimana guliran proses integrasi menuju sebuah Komunitas ASEAN dapat dilakukan secara lebih sistematis, pasti, dan efektif. Melalui proses pembentukan Komunitas ASEAN inilah serta upaya mendorong kerjasama intra kawasan yang lebih luas di Asia Timur dan Asia Pasifik bahkan antar kawasan, Indonesia sesungguhnya tengah  membangun sebuah tertib kawasan (regional order). Dalam pandangan dan keyakinan kita, tertib kawasan merupakan bagian dan building block dari tertib dunia (world order)—yang masih terus kita upayakan dan wujudkan hingga detik ini. Tidak kurang bahwa upaya membangun tertib dunia juga merupakan amanat konstitusional, yakni: “…ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.”

Ke depan, ASEAN harus mengimplementasikan kesepakatan-kesepakatan yang tercantum dalam Piagam-nya. Indonesia perlu terus memberikan prioritas pada implementasi berbagai inisiatif dan ide yang telah disepakati tersebut, diantaranya pembentukan badan HAM ASEAN dan sebagainya. Perlu kita pastikan bahwa ASEAN akan memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kita, termasuk dalam hal pelayanan warga, peningkatan kerjasama ekonomi, perlindungan pekerja migran, dan seterusnya. Kita perlu memastikan bahwa ASEAN akan senantiasa relevan dengan dinamika regional dan global, serta  terus menjadi pendorong kerjasama yang lebih luas dan efektif. 

Disamping terus berupaya memajukan kerjasama di berbagai bidang, kita juga tidak lengah untuk terus memastikan bahwa berbagai bentuk kerjasama tersebut selaras dan sesuai dengan kepentingan nasional serta peraturan perundangan yang berlaku. Kita juga menyadari masih banyaknya tantangan yang harus diatasi, diantaranya yang terkait dengan penetapan batas wilayah, perlindungan wilayah perbatasan dan pulau-pulau terluar dan sebagainya.
Untuk itulah, kepada para pejabat baru di lingkungan Direktorat Jenderal Hukum dan Perjanjian Internasional, saya mengharapkan agar upaya-upaya untuk memberikan pelayanan hukum, baik ke dalam dan keluar lingkungan Departemen Luar Negeri, terus dipertahankan dan bahkan ditingkatkan. Pastikanlah terus bahwa setiap proses negosiasi yang akan membawa konsekuensi legal dan politis yang signifikan, terus mendapatkan perhatian yang serius dan profesional.

Hadirin yang berbahagia,
Sebelum saya mengakhiri sambutan ini, kembali saya ingin mengucapkan selamat menjalankan tugas dan amanah yang dipercayakan kepada saudara sekalian, para pejabat eselon I dan II yang baru di lingkungan Departemen Luar Negeri. Harus diakui bahwa amanah yang saudara sekalian emban tidaklah mudah. Hanya dengan integritas moral, loyalitas pada misi—termasuk orientasi pelayanan warga, serta profesionalisme, maka saudara akan mampu menjalankan amanah ini dengan baik dan bertanggung jawab. Tidak kurang, inilah yang saya harapkan dari saudara sekalian!
Dalam konteks itu pulalah, selain ingin menyampaikan ucapan selamat kepada para istri pendamping para pejabat baru ini, juga terima kasih atas dorongan yang diberikan selama ini.

Akhirnya, saya berdo’a kepada Allah SWT, Tuhan yang Maha Mengetahui apa yang ada dan tersembunyi di hati manusia, agar senantiasa mencurahkan rahmat dan petunjuk-Nya kepada kita semua.

Terima kasih dan selamat bekerja!

Wassalammu’alaikum Warrahmatulahi Wabarakatuh.