Diskusi Kebhinekaan dengan Mahasiswa dan Masyarakat Indonesia di Frankfurt

KJRI Frankfurt telah melaksanakan acara Diskusi Kebhinnekaan dengan Dr. Nirmala Kartini Pandjaitan Syahrir, Bp. Atmadji Soemarkidjo (staf khusus Menko Maritim) dan Bp. Taufan Damianus pada tanggal 11 November 2017 yang lalu. Dalam sambutannya, Konjen RI Frankfurt menyampaikan apresiasinya atas kedatangan para pembicara dan berharap dengan acara ini dapat lebih menguatkan masyarakat Indonesia di Frankfurt akan arti pentingnya kebhinnekaan di Indonesia.

Dalam paparannya,    Dr. Kartini Syahir menyampaikan bahwa Indonesia yang terdiri dari lebih 17.000 pulau mempunyai kekayaan dan persilangan budaya yang paling kompleks di seluruh dunia. Itulah sebabnya para pendiri NKRI memastikan bahwa konstruksi sosial Negara Kesatuan RI adalah kemajemukan dengan falsafah negara adalah Pancasila dan lambang negara Bhineka Tunggal Ika.

Berdasarkan DNA-nya, manusia Indonesia merupakan manusia campuran ras Austronesia dan Afrika (ras Negroid) sekitar 30 ribu tahun lalu, dan ras Austronesia dari Formosa (Taiwan, ras  Mongoloid) sekitar 5.000-7.000 tahun yang lalu. Selanjutnya, Kebudayaan Indonesia yang disebut asli adalah kebudayaan “Fushion” dari unsur-unsur budaya yang budaya yang telah ada sebelumnya. Oleh karena itu, konflik SARA yang timbul saat ini  dengan mengatasnamakan keunggulan agama dan ras sangat bertentangan dengan karakter kemajemukan itu. Menjadi kewajiban kita bersama untuk mengembalikan “ruh” kemajemukan itu pada koridornya yang tepat. Adalah suatu anugerah bahwa  konstruksi sosial NKRI adalah kemajemukan.

 

Masyarakat yang hadir pada malam tersebut menyambut baik terselenggaranya Diskusi Kebhinnekaan ini. Banyak yang menyayangkan terjadinya konlfik yang mengatasnamakan SARA di Indonesia saat ini. Masyarakat yang hadir juga mengharapkan agar diskusi semacam dapat diselenggarakan secara lebih luas agar masyarakat Indonesia baik dalam dan luar negeri semakin mengerti akan arti penting Kebhinnekaan dan Pancasila sebagai pemersatu kemajemukan Indonesia.

 

KJRI Frankfurt, 13 November 2017