Indonesia Tamu Kehormatan di Pameran Industri Dirgantara Internasional, Airtec, Munich

airtec2

Kementerian Perindustrian RI c.q. Ditjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE), bekerja sama dengan KJRI Frankfurt dan KBRI Berlin memfasilitasi keikutsertaan Indonesia dalam pameran internasional industri dirgantara, Airtec, 26-27 Oktober 2016. Sebanyak 8 perusahaan produsen komponen dan jasa pendukung (supply chain) industri dirgantara asal Indonesia turut serta dalam paviliun Indonesia di hall A2/C14 gedung pameran kota Munich.

Airtec merupakan ajang promosi utama dan pertemuan bagi para pelaku usaha di sektor industri dirgantara dari seluruh dunia yang diselenggarakan oleh „BavAIRia”, cluster industri dirgantara di negara bagian Bavaria, setiap tahun. Sebanyak 600 peserta pameran dari 30 negara mengikuti pameran Airtec ke 11 tahun ini, dan dikunjungi lebih dari 1000 orang dari sektor pelaku usaha dan industri penerbangan dari berbagai belahan dunia. Pada tahun ini, Airtec mengambil tema Supply Chain Innovation yang memfokuskan pada sisi inovasi yang dilakukan berbagai produsen komponen dan jasa dalam industri dirgantara.

Pameran Airtec 2016 dibuka bersama oleh Deputy Director-General, Kementerian Ekonomi dan Energi RFJ, Mr. Holger Schlienkamp dan Kepala Kantor Kementerian Ekonomi, Media, Energi dan Teknologi Negara Bagian Bavaria, Dr. Bernhard Schwab. Dalam acara pembukaan tersebut, Dirjen ILMATE, Ir. I Gusti Putu Suryawirawan mewakili Indonesia sebagai tamu kehormatan, berkesempatan menyampaikan presentasi mengenai kebijakan pemri terkait industri dirgantara Indonesia, yang memfokuskan kepada pengembangan supply chain (industri komponen dan jasa penunjang) industri dirgantara yang kuat dalam menyongsong Masyarakat Ekonomi ASEAN 2016.

Dalam kesempatan acara pembukaan tersebut, Komisioner PT Regio Aviasi Industri (RAI) Indonesia, Dr. Ilham Habibie juga menyampaikan rencana pengembangan prototype pesawat turboprop, R-80 buatan Indonesia, untuk memenuhi kebutuhan alat transportasi penerbangan yang sesuai dengan kondisi Indonesia sebagai negara kepulauan. (short haul, fuel efficient, short take off / landing). R-80 diharapkan dapat mulai dipasarkan pada tahun 2022. Terkait hal tersebut, Dr. Ilham Habibie mengundang para pelaku usaha industri dirgantara dunia untuk bekerjasama dalam mengembangkan proto-type R-80.

Dalam pameran juga dilakukan penandatanganan nota kesepahaman untuk menjalin kerja sama bisnis antara beberapa perusahaan di Indonesia dengan industri dirgantara di wilayah Bavaria, antara lain antara PT. Chroma, Bandung dengan techSAT, yang memproduksi instrumen navigasi dan pengetesan penerbangan, PT YPTI Yogya dengan Toolcraft, produsen komponen dan suku cadang presisi tinggi, dan pembuat pesawat, PT RAI, dengan perusahaan TechSAT, GDC Engineering, dan BavAIRia dalam pengembangan prototype pesawat R-80.

Indonesia telah mengikuti ajang pameran industri dirgantara internasional, Airtec, sebanyak dua kali sejak tahun 2015. Sebagai tamu kehormatan dalam pameran tahun ini, peserta dari Indonesia mendapatkan perhatian secara khusus dari para pelaku usaha di sektor industri dirgantara di wilayah Bavaria. Hal ini terlihat dari cukup banyaknya MoU yang ditandatangani antara para pelaku usaha di wilayah Bavaria dengan para pelaku usaha Indonesia.

Frankfurt, 28 Oktober 2016